Minggu, 22 September 2013

Technologi Limbah Tahu

        Dalam pembahasan posting ini, kami fokus pada limbah industri tahu. Tahu merupakan salah satu jenis makanan sumber protein dengan bahan dasar kacang kedelai yang sangat akrab dengan masyarakat indonesia. Air buangan industri tahu rata-rata mengandung BOD, COD, TSS dan minyak/lemak berturut-turut sebesar 4583, 7050, 4743 dan 26 mg/l. kadar maksimum diperbolehkan untuk BOD5, COD dan TTS berturut-turu adalah 50, 100 dan 200 mg/l, sehingga jelas bahwa limbah cair industri ini telah melampaui baku mutu yang dipersyaratkan.


Untuk menurunkan kandungan bahan organik dalam air buangan industri tahu tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan metode fisika-kimia, biologis aerob dan pemanfaatan gulma air. Akan tetapi, penerapan ketiga metode tersebut dalam skala riil khususnya di Indonesia relatif sulit karena beberapa alasan, antara lain: metode dan operasi relatif kompleks, kebutuhan jumlah koagulan besar dan biaya energi listrik untuk aerasi tinggi, serta lahan fasilitas pengolahan yang relatif luas. Dengan demikian, para pengusaha industri tahu sering membuang limbah ke badan air tanpa pengolahan terlebih dahulu. Oleh karena itu, untuk mengatasi masalah tersebut diperlukan metode pengolahan alternatif baru yang efektif, murah dan efisien serta mudah dioperasikan.
Dalam pembahasan ini saya memiliki idea tau gagasan baru , agar bagaimana caranya dapat menciptakan alat baru ini yang tentunya ramah lingkungan baik bagi lingkungan efisien juga murah pastinya.
Terfikirkan dibenak saya, bahwasanya menggunakan robot yang dapat menghendel proses penetralisiran limbah buangan tersebut. Robot memproleh energy dari cuaca alami, seperti memanfaatkan kincir air, kincir angin , teknologi surya. Kita gunakan saja bahan yang sudah tersedia dialam , tapi jika lahan itu memanfharus disediakan dari perusahaan sendiri. Sediakan sepetak tanah dan jadikan semacam kolam untuk menmpung buangan air sebelum di buang ke sungai atau perairan umum yang sering digunakan untuk menunjang aktifitas warga sekitar karena berbahaya juga bagi kesehatan. Membawa dampak buruk bagi makhluk hidup bukan hanya manusia.
Robot di lengkapi dengan penyimpan energi yang telah didapatkan untuk melaksanakan tugas dengan sekali tombol start , tetapi juga di lengkapi dengan beberapa tombol untuk mensetting bagaimana cara kita mendapatkan energy tersebut. Jika ingin menggunakan kincir air, maka setting tombol dengan melakukan kegiatan tersebut tenaga di peroleh dari air.
Semakin deras air yang diperoleh maka energy yang didapatkan pula juga banyak, atau baterai cepat terisi penuh. Begitu juga sebaliknya dengan tenaga kincir angin. Semakin kencang hembusan angin semakin besar pula daya yang diperoleh. Semakin terik matahari semakin besar pula energy yang akan di dapat atau disimpan dalam baterai robot.
Robot berfungsi untuk memindahkan mengaduk juga menyedot limbah yang sudah steril untuk dibuang ke sungai.
Beberapa kelebihan teknologi kami adalah penggunaan mesin tidak menggunakan bahan bakar atau listrik, sehingga cocok sekali bagi para pengusaha tahu yang ada di Indonesia. Selain mudah penggunaannya juga ramah lingkungan.
                Tergantung juga kita menggunakannya dalam proses biologis , fisika-kimia  atau pemanfaatan gulma air. Yang tentunya bahan sudah tersedia dialam, hanya bagaimana kita dapat menggunakan secara bijak, lebih baik digunakan secara bergiliran caranya. Untuk mencegah terjadinya ledakan bahan kimia/fisika. Lebih baik digunakan bergantian untuk menjaga keramahan lingkungan.
Berbagai upaya untuk mengolah limbah cair industri tahu dicoba dan dikembangkan. Secara umum, metode pengolahan yang dikembangkan tersebut dapat digolongkan atas 3 jenis metode pengolahan, yaitu secara fisika, kimia maupun biologis.
1.      Cara Fisika
Merupakan metode pemisahan sebagian dari beban pencemaran khususnya padatan tersuspensi atau koloid dari limbah cair dengan memanfaatkan gaya-gaya fisika. Dalam pengolahan limbah cair industri tahu secara fisika, proses yang dapat digunakan antara lain adalah filtrasi dan pengendapan (sedimentasi). Filtrasi (penyaringan) menggunakan media penyaring terutama untuk menjernihkan dan memisahkan partikel-partikel kasar dan padatan tersuspensi dari limbah cair. Dalam sedimentasi, flok-flok padatan dipisahkan dari aliran dengan memanfaatkan gaya graviatasi.

2.      Cara Kimia
Merupakan metode penghilangan atau konsevari senyawa-senyawa polutan dalam limbah cair dengan penambahan bahan-bahan kimia atau reaksi kimia lainnya.
Proses netralisasi biasanya diterapkan dengan cara penambahan asam atau basa guna menetralisir ion-ion terlarut dalam limbah cair sehingga memudahkan proses pengolahan selanjutnya.
Namun, penerapan metode fisika, kimia atau gabunan keduanya dalam skala riil hasilnya kurang memuaskan khususnya di Indonesia. Hal ini dikarenakan beberapa faktor antara lain: metode pengolahan fisika-kimia terlalu kompleks, kebutuhan bahan kimia cukup tinggi, serta lumpur berupa endapan sebagai hasil dari sedimentasi menjadi masalah penanganan lebih lanjut.
3.      Cara Biologi
Cara biologi ini dapat menurunkan kadar zat organik terlarut dengan memanfaatkan mikroorganisme atau penumbuh air. Proses ini sangat peka terhadap faktor suhu, pH, oksigen terlarut (DO) dan zat-zat inhibitor terutama zat-zat beracun. Mikroorganisme yang digunakan untuk pengolahan limbah adalah bakteri, algae atau protozoa. Sedangakan tumbuhan air yang dapat digunakan termasuk gulma air (aquatic weeds).

Hasil yang dicapai dilaporkan secara teknis cukup memuaskan, dimana diperoleh penurunan BOD terlarut, nitrogen dan fosfor berturut-turut sebersar 95%, 67% dan 57%.


Semoga bermanfaat dan bisa mengguragi LIMBAH di sekitar kita .